Sabtu, 26 Mei 2012

Malam Sabtuan di Paris -Bakery & Café-

Ketika sedang galau berat karena pengerjaan skripsi mengalami twist yang tidak terduga (mendapat saran untuk ganti metode karena hasil try out tidak memuaskan, tapi artinya harus merivisi teori-teori dasar… Story of my life... T_T), saya diajak Dina untuk kembali melakukan cakeventour, semacam acara semi-rutin kami untuk mencicipi roti dan kue-kue di Jogja. Sudah lama juga sejak cakeventour yang terakhir –karena masalah waktu & dana yang terbatas-, jadi saya cukup semangat menyambut ajakannya.


Jadilah, Jumat malam kami mengunjungi Paris Bakery & Cafe Lounge, yang kabarnya baru buka sekitar satu bulan ini di Jogja. Lokasinya di Jalan A.M. Sangaji no. 68 A, daerah sekitar utaranya Tugu Jogja, dari SD Tumbuh masih agak ke utara sedikit. Interior luar dari toko ini cukup menarik, dengan gaya modern-minimalis dan penerangan yang berkecukupan. Ada kursi dan meja yang terlihat homy di terasnya. 

Di papan neon putih itu mestinya ada tulisan Paris Bakery & Cafe Lounge...


Ketika masuk, kami disambut oleh pegawainya yang punya seragam manis (kaos pink, apron hitam dan topi pet unik warna pink juga). Ada bapak-bapak bule yang sedang mengobrol dengan mbak-mbak bule juga, ikut menyambut kami dengan senyum. Kami menduga si bapak adalah sang Baker (Haih jadi teringat Peeta Mellark...), sementara si mbak adalah manajer toko. Counter yang saya tuju pertama kali tentu saja bagian cakenya, yang bentuknya lucu-lucu dan tampak enak. Ada macaroon juga...! Harga cake-nya mulai dari 8000 sampai 17 ribu-an. Ternyata di bagian itu juga ada beberapa roti asin, semacam pizza, quiche, dan roti daging.. Tapi yang tipe begitu agak mahal, 22 ribu sampai 30 ribu…

Di bagian tengah dan pinggir ruangan didominasi oleh pastry, ada macam-macam mulai dari plain croisant sampai pastry isi saus apel dan delice neige blabla gitu… Harganya lumayan lebih murah, dari lima ribu sampai 15 ribu. Selain itu, ada juga roti-roti khas eropa, bagutite yang panjang serta petit pain –roti yang agak alot dengan taburan biji-bijian diatasnya-. Ada juga kue-kue dalam toples (salah satunya suspiciously mirip lidah kucing tapi dengan nama lebih keren). Tidak melihat variasi roti abon atau roti-roti lain yang biasa ada di bakery Indonesia. Hmm, tampaknya mereka mau membuat diversifikasi. Boleh lah.

Kami memilih untuk makan di tokonya, di lantai 2. Setelah bingung cukup lama karena semuanya terlihat menggoda, akhirnya saya pesan Flan Myrtille Blueberry dan Foret Noire (Black Forrest) untuk dimakan disana (lapar mataa?), dan Delice Neige (semacam pastry berlapis-lapis, tampak renyah dengan saus strawberry) untuk dibawa pulang. Sementara Dina memilih strawberry fraisier untuk dimakan di tempat, dan Millefiule dan croissant untuk dibawa pulang.


Pilihannya Dina, so cutee...


Lantai 2 dekorasinya bahkan lebih pinky dan manis. Dindingnya dicat pink dan ada gambar-gambar lampu ala eropa, serta gambar lainnya. Ada koleksi foto-foto Paris juga. Kursi-kursinya tampak cozy (untungnya tidak berwarna pink tapi abu-abu, lumayan menyeimbangkan komposisi warnanya dan cowok pun masih bisa lah masuk). Ada bar minuman yang cukup lucu juga di bagian tengahnya. Koleksi minumannya sekitar teh, kopi, jus, squash dan yoghurt milkshake. Agak mahal hiks, sekitar 15 sampai 18 ribu… Mau yang agak murah, ada mineral water atau soft drink, sekitar 6-10 ribu… Ya sudah sekalian aja saya pesen Ice peach twinings tea (Kirain twinning tuh apa gitu, ternyata merek the celup impor… Deuh).


Interior dalam... Cozy!


Ada wifinya juga ternyata. Jadilah saya & Dina sekalian browsing-browsing dan mengobrol sambil makan kue. Kuenya oke…! Flan Myrtille Blueberrynya, saya pikir akan mirip cream brulle, ternyata lebih padat gitu, tapi tetep enak dan custardnya terasa. Terus bagian pie yang jadi wadahnya juga ada rasanya dan enak, padahal biasanya saya paling males makan bagian pie dari kue karena hambar dan kering. Foret Noirenya, lebih fluffy dibanding black forrest yang biasanya. Lapisan coklatnya sendiri banyak tapi rasa coklatnya agak biasa… Yang enak malah whip cream yang melapisi tengah-tengahnya. Ketika dimakan bareng sama coklat dan kuenya, yummmy….! Ukurannya juga cukup besar. Fiuh harus dibayar dengan sit up 1000 kali sepertinya…. Oh iya, Fraisier yang dipesen Dina juga enak, moussenya terasa ringan dan lembut, pas dicampur dengan cake dan strawberrynya.


My Dinner....! :)


Selain kami, di kafe itu juga ada beberapa pengunjung yang juga nongkrong disana, mengerjakan tugas (dilihat dari laptop dan buku-buku) atau sekedar kumpul-kumpul. Jadi suasananya terasa cukup hidup tapi ngga terlalu ramai juga.

Secara keseluruhan, Paris Bakery & Cafe Lounge ini punya beberapa feature yang berbeda dengan bakery lainnya yang ada di Jogja. Sesuai tagline-nya, ”We bring the taste of Paris for you”. Menurut websitenya, Sang Chef-nya sendiri mendapat pendidikan kuliner di Lyon, Paris, dan mau membawakan pure Frence recipe tradition to Yogyakarta. Apakah ini strategi yang tepat untuk menghadapi konsumen Jogja? Belum tahu juga. Tapi, beberapa kue dan rotinya worth untuk dicoba.. Saya sendiri lumayan kangen dengan tipe roti ala eropa, yang jarang bisa ditemui di Jogja karena orang sini cenderung suka roti yang lembut-lembut… Selain itu, nongkrong di cafe-nya juga nyaman. Lumayan bisa jadi alternatif kalau bosan nongkrong di Dunkin Donuts atau Dixie (atau di Perpustakaan Pusat). Walaupun harus merogoh kocek lebih dalam kalau mau makan sambil nongkrong, karena nambah beli minum plus pajak restoran 10%...


Btw, pastry yang saya bawa pulang sudah disantap sebagai brunch, dan enak…! Seperti genji pie strawberry tapi 20 kali lebih enak… Crustnya entah ada berapa puluh lapis, garing dan crispy. Di salah satu lapisannya ada selai strawberry. Dan di bagian atasnya, ada banyak potongan almond bersalut gula, gorgeous…! *Yak harus nambah sit-up deh*.

***

Hmm, baru menyadari bahwa selama tinggal di Jogja ini sebetulnya saya sudah makan di berbagai macam tempat, namanya juga anak kos… Apa nanti mulai mereview macam-macam tempat makan di Jogja, ya…? Lumayan bisa jadi referensi untuk yang mau main-main ke Jogja, ataupun untuk sesama warga Jogja yang sedang cari tempat makan baru… ^^ Walaupun ngga bisa mereview se-ahli para kritikus boga sih… Ya ampun menggambarkan perbedaan rasa tiap kue di artikel ini aja saya meuni susah… >_< Biasanya saya membedakan makanan itu ya ’enak’, ’ngga terlalu enak’, dan ’ngga enak’ saja… Haha....

Kamis, 24 Mei 2012

Lady Gaga dan Standar Ganda

"Lady Gaga dilarang tampil karena pakaian dan perilakunya yang seronok. Lah itu para penyanyi dangdut koplo memangnya tidak seronok? Kenapa mereka tidak dilarang juga?"


Kalimat diatas kerap terlontar sebagai respon terhadap penolakan terhadap konser Lady Gaga di Jakarta.

Saya tidak akan memfokuskan pembahasan dalam tulisan ini terhadap kontroversi konser Lady Gaga-nya. Sudah banyak sekali pembahasan dan update mengenai isu tersebut. Yang mau saya bahas adalah komentar yang saya kutip di awal tulisan: Mengapa orang bisa mengatakan no pada suatu hal, tapi oke-oke saja pada hal lainnya, padahal kedua hal tersebut secara substansial serupa?

Istilah kerennya adalah double standard, diterjemahkan bebas menjadi standar ganda. Secara etimologis, artinya standar ganda adalah pemberlakuan beberapa prinsip yang berbeda terhadap situasi yang sama. Mengutip dictionary-reference: Double standard is a set of principles that allows greater freedom to one person or group than to another

Greater freedom for the Otters
 gambar dari veridemotivational

Isu standar ganda ini sering bersangkut-paut dengan isu gender. Sering kan ada, standar ganda dimana orang lebih permisif terhadap laki-laki tapi tidak ke perempuan (Misalnya, Laki-laki merokok = macho. Perempuan merokok = pemberontak).

Tapi selain isu gender, standar ganda sering kali muncul dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saya, ngga tega untuk makan sate kelinci, sementara kalau sate ayam malah suka. Padahal kelinci dan ayam sama-sama hewan. Kalau mau tegas, sekalian saja jadi vegetarian (no kelinci, no ayam) atau bold carnivora (kelinci oke, ayam oke..). Alasan saya ngga tega makan kelinci? Karena dia imut… >_<. Sungguh masuk akal (not). Padahal parameter imut pun berbeda-beda. Disini saya punya standar ganda tentang memakan daging.

Contoh lainnya muncul dalam lelucon tentang orang cakep dan orang jelek –pasti sudah pada pernah dengar- . Salah satu isi leluconnya: Orang cakep jomblo, pasti karena belum nemu yang sreg; Orang jelek jomblo, pasti karena ngga laku-laku. Meskipun berada dalam situasi sama (jomblo), orang cenderung lebih permisif terhadap orang cakep dibandingkan orang yang tidak dikaruniai kelebihan fisik...

Contoh lainnya lagi, tersebutlah sebuah negara adidaya yang mengkalim dirinya sebagai pembela hak asasi manusia, dan selalu berusaha untuk mengaplikasikan itu… Namun di lain pihak negara tersebut juga melakukan agresi militer dan membenarkan pelanggaran hak asasi yang dilakukan oleh negara sekutunya terhadap negara lain *ups sentimen*.

Berbagai macam penelitian sudah dilakukan untuk menginvestigasi keberadaan si standar ganda ini, misalnya penelitian yang dilakukan oleh Foschi (1996), yang membuktikan adanya bias terhadap ekspektansi kompetensi kinerja pegawai perempuan dan laki-laki (perempuan mendapat ekspektansi lebih tinggi).

Penyebab terciptanya standar ganda macam-macam, tapi yang paling utama ya karena sifat manusia sebagai makhluk yang irasional dan dinamis. Terkadang memang sulit bagi individu untuk memiliki sikap yang konsisten terhadap suatu isu. Kita bukan robot yang diprogram untuk secara konsisten berkata yes or no saja. Sikap kita terhadap suatu hal menjadi relatif, tergantung dengan situasi dan kondisi... Dan persepsi serta stereotype dan segala faktor luar yang ada.
Pada akhirnya, memang terkadang memiliki standar ganda adalah hal yang tidak dapat dihindari. Ya sudah, be cool with it. Yang menyebalkan adalah, punya standar ganda lalu memaksa orang lain untuk mengikuti nilai yang dipegangnya. Kembali ke analogi sate kelinci, akan sangat menyebalkan kalau saya akhirnya memaksa orang lain untuk tidak memakan sate kelinci, padahal di sisi lain saya tetap memakan sate ayam.Why can't we just live peacefully with our own standard, and respect other's standard as well...?


Referensi:
Foschi, M. (1996). Double Standards in the Evaluation of Men and Women. Social Psychology Quarterly, 59(3), 237-254.

Senin, 14 Mei 2012

Belanda, Negeri Para Pengambil Resiko


The fishermen know that the sea is dangerous and the storm terrible, but they have never found these dangers sufficient reason for remaining ashore” – Vincent Van Gogh


Mewujudkan ide kreatif itu tidak mudah. Tanya saja Van Gogh. Seniman kenamaan dari Belanda ini selalu hidup di bawah garis kemiskinan, karena usaha untuk mewujudkan hasrat seninya tidak diapresiasi masyarakat di jamannya. Tapi itu tidak membuat beliau berhenti melukis, hingga akhir-hayatnya. Baru setelah ia wafat, masyarakat menyadari keindahan lukisan Van Gogh, dan menjaganya hingga bisa dinikmati oleh generasi sekarang.1

Siapa yang tidak takjub dengan keindahan "Starry Night"-nya Van Gogh?
gambar dari galerivangogh

Van Gogh bisa saja berhenti melukis dan mencari pekerjaan lain yang lebih mapan demi hidupnya, tapi ia tidak melakukannya. Karena ia adalah seorang Belanda, seorang pengambil resiko.

Di masa yang berbeda, kita bisa menilik kisah Willem Johan Kolff. Dalam usahanya untuk membantu pasien gagal ginjal, ia mendapat ide untuk mengembangkan metode cuci darah dengan menciptakan ginjal buatan, agar penderita bisa terus hidup walaupun ginjalnya rusak. Dunia medis menyambut ide ini dengan kontroversi, karena alasan keamanan. Beberapa pasien awal yang menggunakan metode Kolff tidak berhasil diselamatkan. Namun Kolff tetap melanjutkan penelitiannya, hingga akhirnya metode beliau diakui dan menjadi penyelamat hidup jutaan orang.2

Sang Inovator dengan mesin penyelamat hidupnya
gambar dari nierchstichtin

Kolff bisa saja menghentikan penelitiannya untuk menghindari kritikan, tapi ia tidak melakukannya. Lagi-lagi, karena ia adalah pengambil resiko.

Setiap ide kreatif pasti disertai resiko –konsekuensi buruk yang menyertai suatu keputusan-. Namun di dalamnya, terdapat pula potensi sukses. Semakin besar resikonya, semakin besar potensi suksesnya. Keberadaan resiko-lah yang sering membuat langkah banyak orang kreatif terhenti di tengah jalan, takut meneruskan usahanya3. Namun, resiko tidak membuat bangsa Belanda takut.

Belanda adalah negeri yang dipenuhi oleh orang-orang yang berani mengambil resiko. Mereka berani mengarungi lautan sejauh mungkin demi mencari rempah-rempah. Mereka rela menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengeksplorasi ide-ide yang dimiliki. Hasilnya? Belanda diakui sebagai negara yang menghasilkan banyak karya, penemuan dan inovasi penting bagi dunia. Perusahaan multinasional (VOC), mikroskop, teleskop, pasar modal, hingga mobil terbang dan energi terbarui, adalah buah dari keteguhan mereka dalam mewujudkan ide dan menantang resiko.

Mobil terbang, yang menurut para ilmuwan "secara ilmiah mustahil" untuk diwujudkan
gambar dari Sparkdesign

Sukses tak melulu mereka dapat. They fell hard too. Setelah sukses berkepanjangan, VOC berakhir dalam kebangkrutan. Inovasi dalam menciptakan pasar modal dengan bunga tulip sebagai komoditi pada abad ke-17, berakhir dengan kegagalan ekonomi yang luar biasa, yang sekarang dikenal sebagai peristiwa tulipmania.4

Namun, itu tak membuat mereka menyerah. Kegagalan dijadikan pembelajaran dan inspirasi. Misalnya, tulipmania menginspirasi para ekonom untuk membuat mekanisme pencegah gelembung ekonomi.

Juga menginspirasi lukisan satir - The Wagon of Fool oleh Hendrik Gerritsz
gambar dari soenyun

Gaya hidup dan kebijakan yang diberlakukan di Belanda saat ini pun menggambarkan watak mereka sebagai pengambil resiko. Legalisasi marijuana, pemberian pendidikan seks bagi pelajar, legalisasi euthanasia, hingga pernikahan homoseksual. Meskipun menuai kontroversi, mayoritas masyarakat berani mendukung kebijakan tersebut demi mewujudkan idealisme mereka untuk melindungi keseimbangan hak asasi manusia.

Saat ini, Belanda tengah menghadapi tantangan berat: Krisis ekonomi di zona Euro. Sikap awal yang diambil oleh Belanda cukup menaikan alis dunia internasional. Apapun keputusan yang akan diambil oleh pemerintah Belanda nanti, tentu mengandung potensi sukses dan resiko gagal yang besar. Namun saya percaya, mereka pasti akan bisa menemukan solusi dari tantangan tersebut. Karena mereka adalah para pengambil resiko yang cerdas dan inspirasional.

Referensi:

1http://www.vangoghgallery.com/misc/bio.html

2http://www.rug.nl/let/onderzoek/onderzoekcentra/biografieinstituut/medewerkers/Kolff?lang=en

3http://www.schneier.com/essay-155.html

4http://www.thetulipomania.com/


Jumat, 04 Mei 2012

L’arc en Ciel di Jakarta: A Night to Remember


Last Wednesday night, L’arc en Ciel has made an amazing live performance in Jakarta, and I was there… Real or not real? #Peetasyndrom

Absolutely real…! Salah satu bukti nyatanya adalah badan yang sampai hari ini masih terasa pegal linu akibat jingkrak-jingkrak selama dua setengah jam sambil membawa tas gendong berisi laptop (pelajaran pertama: never again bring too much stuff to a concert… bisa membuat orang menaikan alis…). Tas favorit saya itu pun akhirnya putus talinya di tengah-tengah konser, tidak kuat menahan beban barang-barang sekaligus dibawa meloncat-loncat…

Jadi… Tanggal 2 kemarin, rasanya seperti mimpi. Bisa melihat Hyde, Tetsu, Ken dan Yukihiro setelah selama ini cuma bisa membayangkan bagaimana rasanya melihat mereka secara langsung. Laruku adalah salah satu faktor awal yang membuat saya sangat menyukai genre musik Jepang. Walaupun kadar kecintaan saya pada mereka naik turun, tidak semua lagu hapal di luar kepala, tetap saja mereka menempati posisi super spesial di hati…. Karena itu di hari pertama penjualan tiket online dulu, walaupun sulit, saya segera membeli tiketnya. Cuma sanggup membeli tiket kelas festival sih, tapi yah lumayan…. Masih lebih beruntung daripada teman-teman yang juga suka sekali dengan Laruku tapi tidak bisa menonton. Minna san yang sudah ikut mendoakan kelancaran saya menonton, arigatou nee… Maaf pesannya untuk titip mencolek Hyde ataupun memfoto Tetsu belum sempat terlaksana…  

Saya dan Imoto tiba di Senayan sekitar jam 2  siang, setelah menyelesaikan beberapa urusan. Kami turun di halte Gelora Bung Karno, yang ternyata masih berjarak 10-15 menit jalan kaki menuju Lapangan D Senayan. Sampai disana, sudah ada banyak orang berkumpul di depan lapangan D. Kebanyakan memakai aksesoris dan kaos Laruku –either souvenir resmi ataupun hasil menyablon sendiri-. Setelah menukar voucher dengan tiket resmi di booth tiket.com, saya dan imoto pun mengganti pakaian dengan memakai kaos handmade bertema Smile album… Kaos yang dengan kreatifnya digambar oleh imoto dengan spidol… ^^

 Smile x_x

Di konser ini saya beberapa kali mengantri:

-          Untuk melewati gate 1 yang menuju area souvenir dan atraksi sebelum masuk ke area konser, waktu yang dihabiskan sekitar satu jam lebih…. Antrian berlangsung dengan cukup beradab, walaupun sangat sangat-sangat crowded…. Makanan di area souvenir, sangaat mahal. Shock dengan harga pulpy orange yang jadi 20 ribu rupiah. Whoa.

 Sea of men with one similarity: We all love Laruku..!

-          Untuk mengantri berfoto bersama life size picture dari Hyde dkk.  Awalnya antriannya cukup beradab, terbagi jadi 4 baris sesuai jumlah personel. Yang berfoto dengan gambarnya pun punya cukup space dan watktu untuk berfoto beberapa kali. Tapi beberapa waktu kemudian antrian menjadi kacau… Orang-orang saling mendahului, yang dari barisannya Ken ambil fotonya dengan Hyde, dsb dsb. Barisan antrian semakiin mendekati foto lifesizenya, yang tadinya bisa foto seluruh badan jadi hanya bisa foto setengah badan saking ngga ada tempat... Sampai khawatir mini panggungnya akan roboh… Ketika sampai di bagian Hyde, cuma bisa foto masing-masing satu kali, dan fotonya imoto malah ngga tersimpan.. >_<

  Gyaaaaa...!

-          Antri melewati gate 2 untuk masuk ke area konser. Sekitar 20-30 menit. Selama mengantri disana, khawatir dengan keadaan langit yang mendung. Setelah beberapa lama, langit diatas senayan jadi tampak cerah, sementara sekelilingnya masih berawan. Bahkan di langit sebelah kiri, kilat sampai kelihatan jelas, seram… Untungnya sampai konser selesai, tidak hujan deras. Paling sempat gerimis di bagian akhir, tapi itu pun ngga parah, malah membuat suasana semakin romantis. Pawang hujannya sukses….

Sampai di area konser jam 7 kurang. Pemandangan dari kelas festival, seperti yang bisa diduga, panggungnya terlihat jauuuh. Untung ada layar besar di kiri-kanan. Tapi itu pun bagi saya yang pendek ini agak susah dilihat, karena orang-orang di depan sangat tinggi. Awalnya, sempat ada inisiatif dari para penonton kelas festival untuk duduk, lega sekali, karena panggungnya jadi terlihat jelas. Sayangnya inisiatif ini tidak bertahan lama. Setelah 10 menitan, semua orang kembali berdiri. Yah, memang kurang afdol menonton konser rock sambil duduk. Pesimislah saya bisa melihat Hyde dengan jelas…

 My view at the beginning of the concert. I got better view along the time though.

Jam 7.30, ada pengumuman dari pihak manajemen Laruku, konser akan dihentikan jika muncul petir, untuk kemananan. Saya agak panik dan berdoa supaya petir tidak muncul.

Jam 8, akhirnya lampu di panggung mulai menyala, diiringi dengan permainan gitarnya Ken. Saya otomatis menjerit histeris. Semua bad mood yang muncul akibat lokasi berdiri yang tidak strategis segera hilang, tergantikan dengan excitement bisa mendengar Hyde secara langsung. Oh ya ampun suaranyaaa… Jelas sekali itu suara asli tapi bisa sebagus ituuu… Suara drumnya Yuki, Bassnya Tetsu dan gitarnya Ken juga terdengar jernih dan sempurna. Yang bisa saya saksikan dengan jelas memang suaranya…. Sementara untuk melihat layar, akhirnya saya mundur ke barisan agak belakang. Supaya bisa melihat Hyde yang asli di panggung, harus loncat sekuat tenaga. Oh iya, Imoto juga sempat dengan baik hatinya mengangkat saya selama beberapa detik supaya bisa melihat Hyde sama.

Ketika lagu-lagu yang saya suka  dinyanyikan (sekitar 2/3 dari list), saya ikut bernyanyi dengan semangat, walaupun nadanya kemana-mana. Yang penting bisa berpartisipasi dalam upaya memberi tahu Hyde dkk bahwa di Indonesia ini fansnya sangaat sangaaaat mencintai mereka. Ketika saya tidak hapal liriknya, ikut melambai-lambai saja, sesekali menjerit histeris kalau melihat aksi yang unik. Di kiri-kanan, die hard fans bisa diidentifikasi dengan seberapa hapal mereka dengan lagu yang dimainkan.

Dari hasil browsing, sepertinya penonton di kelas VIP sangat dimanjakan, dekat sekali dengan panggung. Uh, menyesaaal kenapa tidak membeli yang 1,2 juta saja. Dapat merchandise, pula… Tapi ya sudahlah disyukuri saja…. Tetap masih bisa melihat betapa megahnya konsernya. Beberapa efek seperti api dan kembang api yang muncul di awal lagu tetap bisa disaksikan.

The moment it felt soo real, ketika Honey dimainkan, dan sebagian besar penonton menyanyikan mulai dari bait pertama sambil meloncat-loncat. It was crazy, dan dilanjutkan dengan lagu-lagu bertempo cepat. Ketika Hitomi Jyuunin dimainkan, terasa syahdu sekali, penonton menjadi lebih tenang dan melambai-lambaikan tangan sambil menyanyi. Di My Heart Draws a Dream, bagian ”Yume wo egaku yo”, saya takjub mendengar penonton masih sanggup meneriakan reffnya keras-keras. Apalagi sama Hyde, yang suaranya masih bagus aja padahal sudah menyanyi lebih dari sepuluh lagu….

Sepertinya semua media dan live report twitter sudah melaporkan MC-nya Hyde, Ken, dan Tetsu yang kocak. Mendengarkan Hyde, Ken, dan Tetsu dengan sepenuh hati berusaha berbicara bahasa Indonesia, sungguh menggetarkan hati. Kalau Hyde cenderung bicara pendek-pendek tanpa teks, menanyakan ”apa kamu senang…??”, si Ken bicara panjang lebar dengan membaca teks, bicara soal cewek berbikini dan oleh-oleh untuk Hyde. Suka sekali melihat Hyde yang asik bermain-main dengan wayang dan suling. Uwaaah, they really know how to completely win the heart of Indonesian fans…!

Setelah 7th Heaven, berturut-turut Driver’s High, Stay Away, dan Ready Steady Go dimainkan. Penonton kompak menyanyi bersama, dan bertepuk tangan di bagian ”Causes Staaiin… Stay Awaaaay”. Setelah Ready Steady Go, panggung kosong dalam waktu yang cukup lama. Saya dan beberapa penonton di sekitar kebingungan, ngga percaya konser sudah usai, tanpa kata-kata terakhir. Padahal kalau menurut list lagu konser sebelumnya, Anata, Blurry Eyes dan Niji belum dimainkan. Gerimis yang muncul diiringi kilat membuat saya paranoid bahwa konsernya dihentikan. Beberapa penonton menerikan ”encore”, tapi karena masih bingung gaungnya tidak terdengar.

Kemudian setelah beberapa waktu yang dirasa lamaaa… Musik dari anata dimainkan, dan di layar muncul teks dari reff-nya Anata dalam huruf romaji. Kemudian Hyde muncul dan menyanyikan Anata. Ini momen yang sangat menyentuh hati. Gerimis yang disinari cahaya lampu membuat suasana semakin romantis… Saya sampai menangis di bagian reff-nya, dimana Hyde mengajak penonton menyanyi bersama-sama dengan cukup lama….

Ternyata memang pihak Laruku sudah meriset lagu-lagu favorit fans Indonesia. Setelah Anata, mereka memainkan 4th Avenue Cafe yang tidak ada di list konser sebelumnya. Sebagai OST Ruroni Kenshin, banyak fans termasuk saya yang pertama kali tahu Laruku dari lagu ini. Penonton bersemangat sekali menyanyi mulai dari bait pertama. Kemudian lagu berikutnya pun, Link yang tidak ada di list tapi memang populer di kalangan fans. Ikut bertepuk tangan lagi di bagian reffnya.

Setelah itu, Hyde bilang akan menyanyikan lagu terakhir (”Ini lagu terakhir”, literally dalam bahasa Indonesia), Niji. Mau nangis lagi rasanya. Kemudian muncul property bulu-bulu yang beterbangan, terasa sangat surreal jadinya. Oh my. Setelah lagu selesai, penonton masih ngga rela dan memanggil-manggil mereka untuk terus menyanyi, tapi apa boleh buat, sudah selesai. Tapi, Hyde berjanji, ”Kami datang lagi,”, disambut dengan teriakan histeris para fans. Yes, pleasee…!! Dan somehow saya merasa yang dia ucapkan itu betul-betul serius, mereka pasti mau datang lagi, karena sudah menyaksikan sendiri antusiasme fans yang begitu besar.

Konser diakhiri dengan Tetsu yang membagi-bagikan pisang dan Chuppa Chups (Product Placement…??! Atau ketidaksengajaan…?). Daan, diakhiri dengan kata, ”Mata ne…!!” Dibalas dengan teriakan serempak, ”Mata neeee….!!!”. Panggung kemudian mati dan penonton masih stay untuk beberapa menit, berharap masih ada encore, sayangnya sudah tidak ada, ditandai dengan musik penutup dari panggung.

Pelajaran kedua: Di konser berikutnya, harus mendapatkan tiket VIP! Harga memang sebanding dengan kepuasan yang diperoleh. Sekarang, menabung dulu…

 Next time, should be able to see Hyde's nipple with bare eyes...!
gambar via yahoo
 
*Spesial thanks to Kholis yang sudah rela kosnya diinapi oleh saya dan Imoto pasca konser hanya dengan pemberitahuan dua hari sebelumnya, juga dibanjiri dengan cerita histeris soal menonton Laruku. Terima kasih juga atas diskusi mendalam tentang Hunger Games dan Josh Hutchersonnya, serta diskusi tentang dunia kerja.. :) See you soon ya Kholis…:)

Selasa, 17 April 2012

Survival Romance


Entah bagaimana, beberapa hari ini hiburan yang saya saksikan selalu bertemakan ’survival’ dan dunia ’post-apocalypse’. Cuma dua judul saja sih, The Hunger games (film – novel) dan 7 Seeds (manga). Kedua-duanya memiliki setting post-apocalypse, dunia di masa depan setelah dunia yang sekarang ini hilang. Di dalamnya juga ada kisah mengenai perjuangan beberapa tokohnya dalam proses ’battle royale’ yang mengerikan sekaligus mengharukan. Yang mana yang lebih bagus, tidak bisa dibandingkan juga, karena selain kedua tema utama tadi, elemen dari 2 cerita itu banyak sekali perbedaannya. Sama-sama punya kelebihan tersendiri.

Sepertinya kalau Hunger Games sudah sangat dikenal lah ya, dengan film pertamanya yang baru dirilis dan bukunya yang sudah lengkap (Team Peeta! XD). Kholis juga sudah mereview disini. Bagaimana dengan 7 Seeds?



Meskipun sudah diterbitkan di Indonesia oleh elex sejak bertahun-tahun lalu, saya tidak pernah tertarik untuk membacanya, karena sampulnya yang mengesankan bahwa ini adalah komik serial cantik horor. Lagi-lagi pepatah jangan menduga isi buku dari sampulnya, terbukti benar. Kalau boleh ditambah, jangan menduga isi manga hanya dari volume pertamanya juga. Untungnya baru membaca sekarang adalah, sekarang 7 Seeds sudah mencapai volume 17 di Indonesia, dan 21 di Jepangnya. Jadi sudah langsung banyak sekali cerita yang bisa dibaca… Meskipun sekarang harus menunggu lama juga untuk kelanjutannya.

Berikutnya sedikit penjelasan mengenai 7 Seeds, mild spoiler, walaupun sudah membaca ini insyaallah tidak mengganggu keasyikan membaca ;-).

Volume pertama mengisahkan kebingungan Natsu yang tiba-tiba terbangun di sebuah kapal yang dilanda badai di tengah laut, bertemu dengan 3 orang asing (Arashi, cowok yang sangat baik pada Natsu tapi sudah punya pacar, Semimaru yang tampak berandalan, dan Botan, mbak-mbak dewasa yang tegas), yang tampak sama bingungnya. Ingatan terakhir mereka adalah makan malam bersama keluarga masing-masing. Apa yang sebetulnya terjadi? Penculikan? Reality show?

Setelah berbagai kejadian (mendarat di pulau, bertemu macam-macam binatang aneh) dan pertemuan dengan 4 orang bernasib sama, akhirnya Botan  menjelaskan keadaan mereka yang sebenarnya: Sekarang mereka berada di bumi di masa depan, entah berapa ratus tahun setelah masa kehidupan mereka. Natsu dan 6 orang lainnya adalah bagian dari proyek pemerintah yang dinamakan 7 Seeds. Di masa kehidupan Natsu yang sebelumnya, para ilmuwan telah memastikan adanya hujan meteor yang bisa membawa perubahan drastis pada kondisi bumi. Mirip dengan yang terjadi sebelumnya ketika masa Dinosaurus berakhir dan berubah menjadi jaman es setelah bumi dihantam meteor besar. Berbagai upaya telah dilakukan: Menghancurkan meteor dengan misil, hingga membuat shelter khusus yang dirancang agar bisa menjadi tempat tinggal sementara bagi beberapa ribu manusia, ketika situasi di bumi tidak aman.

Kemudian, sebagai upaya terakhir, dibuatlah proyek 7 Seeds: In case segala upaya pemerintah untuk bertahan hidup gagal karena kondisi bumi yang terlalu ganas, mereka merasa harus tetap mempertahankan keberadaan manusia di muka bumi. Maka setiap negara memilih sekelompok orang secara acak –tapi tetap berdasarkan kualitas fisik dan intelijensi- untuk ditidurkan dan disimpan di dalam kapal di bawah laut. Program komputer akan menganalisis kondisi bumi, jika dirasa sudah cukup aman untuk menjadi tempat hidup manusia, maka orang-orang tersebut akan dibangunkan, dan bertugas untuk bertahan hidup dan mengembalikan populasi manusia.

Di Jepang, ada 5 kelompok 7 Seeds yang ditempatkan di daerah yang berbeda-beda: Summer A di Kyushu utara, Summer B di Kyushu selatan, Spring di daerah Kanto, Autumn di daerah Kansai, dan Winter di daerah Hokkaido. Tiap kelompok terdiri dari 7 orang yang berasal dari berbagai latar belakang dengan kriteria muda dan memiliki gen yang bagus, juga cenderung memiliki suatu kelebihan (arsitek, dokter, seniman, dll). Dalam tiap kelompok ditambahkan juga 1 pemandu, orang yang tahu mengenai proyek 7 Seeds dan bertugas membimbing anggota kelompoknya untuk bertahan hidup.

Natsu dan kawan-kawannya kaget dan tidak percaya, karena mereka memang tidak diberitahu dan dimintai consent. Mereka semacam ’diculik sewaktu tidur’, tapi dengan ijin keluarga. Orang tua mereka cenderung terbujuk dengan harapan bahwa anak mereka akan hidup di masa depan, dan diberi uang tutup mulut juga-. Bonus kejutan tambahan, ternyata Summer B itu agak berbeda dengan kelompok lainnya; Sementara keempat tim lainnya terdiri dari orang-orang ’sempurna’, kelompok Summer B justru terdiri dari orang-orang yang agak ’bermasalah’ di masyarakat. Ini untuk memenuhi asumsi, jangan-jangan kehidupan di masa setelah serangan meteor justru tidak cocok bagi orang-orang ’sempurna’, karena itu dipilihlah orang-orang semacam Natsu –yang mogok sekolah karena di-bully-, Semimaru –yang bekas berandalan-, dan yang lainnya. Apakah Natsu dan kawan-kawannya berhasil bertahan hidup?

Penjelasan diatas baru merekap volume 1 dan setengah dari volume 2. Selanjutnya, fokus cerita berganti-ganti, tidak hanya di kelompok Natsu tapi juga di kelompok-kelompok lainnya. Berbagai konflik dan dinamika yang terjadi dalam tiap kelompok sungguh sangat menarik…! Sampai volume 20, ceritanya sudah berkembang demikian jauh, dengan twist yang tidak terduga, dan endingnya masih tidak terbaca.

Ini komik shoujo yang tidak biasa. Gambarnya sih khas shoujo manga. Tapi ceritanya sangat realistis –bukan tipe yang berbunga-bunga ala shoujo manga-, menegangkan, ada beberapa action, adegan yang lucu dan membuat tertawa, dan beberapa adegan juga bisa sangat mengharukan –dan tidak cheesy-. Karakternya banyak tapi semuanya digambarkan dengan detail, punya ciri khas masing-masing, dan memiliki perkembangan karakter yang signifikan sepanjang cerita berjalan.

Arc yang paling membuat saya menangis (mild spoiler alert):

-          Kisah tim musim dingin : Cinta segi tiga di tengah ganasnya keadaan lingkungan, menghangatkan hati…

-          Kisah tim musim panas A : Battle royale yang mengerikan dan mengharukan…

-          Kisah Shelter Ryugu à Tidak sengaja beberapa anggota 7 Seeds  menemukan bangunan bawah tanah yang ternyata merupakan shelter ketika meteor besar menyerang bumi –beberapa waktu setelah para 7 seeds ditidurkan-. Mereka juga menemukan buku harian di sebelah kerangka seseorang bernama Mike, dan membaca kisah yang –aduh kehabisan kata-kata- menghangatkan hati, mengerikan, dan sungguh tragis… >_<

Manusia itu makhluk yang kompleks; Meminjam istilahnya Darwin, kita ini sama saja dengan makhluk hidup lainnya, terlibat dalam proses survival of the fittest. Freud mengamininya, menyatakan bahwa manusia itu memiliki insting untuk bertahan hidup. Di lain pihak, sebagai makhluk yang mampu berpikir, kita juga mengetahui bahwa kita tidak bisa selamanya hidup; ada yang namanya kematian, segala sesuatu akan ada akhirnya. Ini yang membedakan kita dengan hewan-hewan, yang sepertinya tidak sebegitu paham dengan konsep ’mati’. Mungkin kedua hal itulah yang membuat cerita-cerita tentang dunia post-apocalypse, juga cerita tentang survival, menjadi populer. Memenuhi fantasi dan harapan terdalam, bahwa dalam kondisi seperti apapun, masih ada harapan bagi manusia untuk bertahan hidup..

Senin, 02 April 2012

The Girl who Leapt through Time : Refleksi


Film yang menggunakan plot tentang manipulasi waktu (baik itu pergi ke masa lalu atau ke masa depan) sering membuat saya pusing sendiri, karena banyak pertanyaan yang tidak terjawab kalau mengikuti logika ceritanya. Contoh kasus dari teori grandfather paradox ini cukup menggambarkan kebingungan saya: jika seseorang (sebutlah namanya A) pergi ke masa lalu untuk menghentikan kecelakaan, maka di masa lalu kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi, sehingga A di masa sekarang tidak akan pernah kembali ke masa lalu karena tidak punya niatan untuk menghentikan kecelakaan itu, yang berarti di masa lalu kecelakaan itu akan tetap terjadi, sehingga A akan kembali ke…. Oke saya pusing. Contoh film yang agak membingungkan buat saya adalah The Lake House-nya Sandra Bullock & Keanu Reeves. Meskipun jadinya Happy end –beda dengan film aslinya-, tapi ya jadinya malah inkonsisten… 

Tapi, tetap saja ada film-film yang berhasil menggunakan plot time travel dengan baik, beberapa bahkan memberikan penjelasan yang cukup logis. Time Traveler’s Wife misalnya, yang juga cukup menyentuh hati. Atau film yang ceritanya sendiri sangat bagus sehingga saya jadi ngga terlalu peduli dengan kurangnya penjelasan logis mengenai time travelnya.

The girl who leapt through time / Toki wo kakeru shoujo (anime, 2006) adalah cerita yang juga mengeksploitasi tema penjelahan waktu. Karena ceritanya yang bagus (despite the plot hole), sekarang saya sedang agak terobsesi dengan animenya. Di sela-sela mengerjakan skripsi, pencarian beasiswa, dan latihan debat, saya sempat-sempatkan mencari hal-hal yang berhubungan dengan anime ini. Telat yah? Animenya sudah dibuat sejak 2006. Si Priska juga sudah mereview sejak jauh-jauh hari.

Ada berbagai versi dari Toki wo kakeru shoujo, dan semuanya diawali dengan novel yang dibuat oleh Yasutaka Tsutsui pada tahun 1967. Orang yang visioner. Sayangnya saya belum bisa baca novelnya, belum menemukan yang versi berbahasa inggris (dan gratis). Dari hasil browsing, ceritanya mengenai Yoshiyama Kazuko, anak perempuan yang tidak sengaja memiliki kemampuan menjelajah waktu, yang jatuh cinta pada orang dari masa depan…

Versi animenya saya tonton beberapa waktu yang lalu.


gambar dari Otakuworks

Anime ini mengisahkan tentang Makoto Konno (pengisi suara: Naka Risa, cewek yang sering dibilang mirip sama Ninomiya Kazunari), anak SMA tomboy dan agak-agak ceroboh, yang  menikmati hari-harinya dengan ceria bersama dua sahabatnya, Chiaki Mamoru (Takuya Ishida, suaranya oke sekali) dan Kousuke Tsuda (Mitsutaka Itakura).

Suatu ketika Makoto tidak sengaja mendapatkan kemampuan untuk melompati waktu kembali ke masa lalu. Kemampuan ini dia dapat setelah menyentuh benda aneh berbentuk kacang kenari di ruang ipa sekolahnya, dan terpicu ketika dia hampir tertabrak kereta. Setelah berdiskusi dengan bibinya (Tidak pernah disebutkan namanya, hanya dipanggil Bibi Penyihir saja, tapi ternyata beliau adalah Yoshiyama Kazuko dari cerita novel), Makoto jadi percaya diri dan menggunakan kemampuannya itu untuk memperbaiki hal-hal yang terjadi di masa lalu. Bukan, bukan untuk menghentikan perang atau apa, tapi untuk memperbaiki kejadian yang merugikan dia, atau mengulangi saat-saat yang menyenangkan… Sangat self-serving dan manusiawi. Misalnya, mengambil puding yang sebelumnya dimakan adiknya, memperbaiki hasil tes, menghindari kesialan di kelas memasak, mengulangi acara karaoke yang dia ikuti, hingga menghindari pengakuan cinta dari salah satu sahabatnya –karena dia tidak mau mengubah status quo yang menurutnya paling nyaman-.

Tapi kesenangan Makoto tidak bertahan lama. Akhirnya dia menyadari bahwa ketika dia mengubah sesuatu di masa lalu, kejadian di masa depan ikut berubah juga, dan tidak selalu berakhir baik. Ada orang yang akhirnya dirugikan. Misalnya, ketika dia mengulangi kejadian akan dilempar oleh alat pemadam kebakaran, yang terkena malah temannya. Berbagai kejutan muncul di akhir film: Bahwa ternyata kemampuan melompati waktunya ada batasnya, bahwa sahabatnya terancam menggantikan dirinya tertabrak kereta, bahwa kemampuannya melompati waktu ternyata berasal dari pihak yang tidak terduga. Apa yang mesti dilakukan Makoto selanjutnya?

Ffiiuh, susahnya menceritakan sinopsis tanpa memberi spoiler!

Overall penilaian saya terhadap anime ini, super oke! Cerita slice of life dicampur elemen fantasi yang secukupnya, membuat anime ini jadi terasa hangat, lucu, dan manis. Saya suka juga dengan lagu sisipan dan ending songnya, Kawaranai Mono dan Garnet dari Oku Hanako, yang sangat manis dan liriknya sesuai dengan cerita filmnya. Dan endingnya, bittersweet sekali…! Saking bittersweetnya saya jadi suka kepikiran, bagaimana kelanjutan hidup Makoto setelah anime ini selesai…? Bukan cuma saya, tapi banyak juga orang yang mendiskusikan dan berspekulasi tentang kelanjutan dari kisah Makoto.  

Oke, ini pendapat saya mengenai ending dari anime ini dan spekulasi mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya (heavy spoiler, kalau sudah nonton animenya baru baca ya):

Chiaki: I’ll wait for you in the future

Makoto : Yes! I’ll come to you. I’ll come running!

Adegan perpisahan saat matahari terbenam ini sangat sangat menyentuh dan menyayat hati. Iringan lagu instrumen dari Kawaranai Mono juga membuat adegannya semakin sedih. Adegan kedua tersedih adalah ketika si Makoto berlari melompati waktu untuk terakhir kalinya dan melihat flash back pertemannya dengan Chiaki dan Kousuke. Huwaaa….

Oke, kembali ke endingnya. Kalimat Chiaki, super ambigu! Apa maksudnya waiting in the future? Apa maksudnya Makoto bilang dia akan lari menuju Chiaki?

Beberapa orang mengartikannya secara harfiah, bahwa:

a)Chiaki sebetulnya datang dari masa depan yang tidak terlalu jauh, jadi Makoto masih akan bisa bertemu dengannya di masa hidupnya, walaupun usianya nanti berbeda. ---> Menurut saya ini ngga terlalu mungkin, karena situasi di masanya Chiaki sudah jauh berbeda…

b) Makoto akan menciptakan mesin waktu, dan Chiaki sebetulnya tahu, karena itu dia mau menunggu Makoto…? ---> Bisa saja, apalagi di dalam anime ini ada sub-plot dimana si Makoto bingung menentukan jurusan apa yang akan dia pilih untuk melanjutkan sekolah, dan di akhir anime dia sudah memutuskan…. Tapi, berapa lama coba waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan mesin waktu?

c) Chiaki kembali ke masa depan untuk me-recharge jatah lompatan waktunya, dan dia akan kembali ke masanya Makoto, mungkin tidak segera tapi akan datang (setelah dihukum gitu di masanya karena melanggar aturan dengan memberi tahu tentang time travel kepada orang di masa lalu). ---> Ini ending harapan ideal saya…. Ini kan dunia anime dimana apapun bisa terjadi, maka semoga saja Chiaki akan bisa kembali menemui Makoto… Beberapa fanfiction juga mengambil perspektif ini. Senang! Tapi, too good to be true juga sih…

Beberapa mengartikan ini sekedar ungkapan saja. Optimisme palsu. Sekedar kalimat untuk mengungkapkan bahwa mereka saling menyukai…Sesebal-sebalnya saya dengan tipe ending seperti ini, tapi saya merasa inilah ending yang paling mungkin. Bisa saja misalnya Makoto memutuskan akan menjaga lukisan yang ingin dilihat Chiaki agar bisa dilihat di masanya Chiaki (tapi kalau lukisannya tidak hancur di masa Chiaki, dia tidak akan punya niatan untuk kembali ke masa lalu dong? Yang berarti.. .Oh no mulai lagi loopholenya).

Atau simply, Makoto akan tetap mengingat Chiaki dan menjaga kenangannya. Arti lirik lagu Garnet yang jadi ending kan temanya seperti itu:

Itsuka hoka no dareka wo suki ni natta toshitemo, Anata wa zutto tokubetsu de taisetsu de,Mata kono kisetsu ga meguttegu...

Even if I were to fall in love with someone else someday, You’d always be special and important to me, And this season would come around again...

Jadinya ending ini sama bittersweet-nya dengan ending Subtle Knife-nya Philip Pullman. Seperti Lyra dan Will, Makoto dan Chiaki terpisahkan oleh jarak yang tidak mungkin bisa diubah, tapi toh mereka akan tetap menghargai dan mengingat hubungan yang terjalin diantara mereka. Jiah. Walaupun, Lyra dan Will saja sempat ciuman, masa Makoto dan Chiaki ngga pernah…? T_T
Begitulah, anime ini sangat sangat direkomendasikan untuk ditonton.

Setelah browsing, ternyata ada versi manga-nya juga, dengan tokoh yang sama dan cerita yang kurang lebih sama. Tidak selengkap animenya, tapi di beberapa adegan mangakanya memberikan dialog atau adegan yang tidak ada di animenya, jadi bisa menjadi pelengkap lah….

 versi manga

Sedikit komentar tentang versi live-action yang dibuat tahun 2010. Tokohnya bukan Makoto, tapi Akari Yoshiyama (diperankan oleh seiyuunya Makoto, Naka Risa), anaknya Kazuko Yoshiyama. Jadi ini sekuel langsung dari novelnya. Ceritanya, Akari pergi ke masa lalu menggunakan obat temuan ibunya, untuk mencari seseorang dari masa lalu ibunya. Di masa lalu, Akari malah berteman dengan Ryota, mahasiswa yang ingin jadi sutradara. Percikan cinta muncul diantara mereka, tapi apakah akan bisa bersemi…?

Versi live action ini lumayan bagus sih, tapi ngga meninggalkan kesan sedalam animenya. Ceritanya agak lebih mainstream, dengan solusi yang juga mainstream, walaupun sedih juga.  

Overall… Kenapa anime-nya begitu meninggalkan kesan buat saya? Pertama, mungkin karena saya juga masih suka berharap bisa melompati waktu, kembali ke masa lalu, memperbaiki kesalahan-kesalahan bodoh yang pernah terjadi. Tapi lebih penting lagi, angle anime ini memang unik; Anime ini bukanlah anime fiksi ilmiah yang menceritakan tentang bagaimana penjelahan waktu terjadi. Tapi lebih tentang proses belajar yang dialami oleh Makoto, bagaimana dia belajar untuk menghargai waktu yang dimiliki, juga kenangan yang diperolehnya..

Time waits for no one!

Minggu, 01 April 2012

Evaluasi IELTS


 Setelah deg-degan cukup lama, hasil tes IELTS saya sudah keluar! Hasilnya sesuai dengan target yang diharapkan, syukurlah, walaupun persiapan yang dilakukan terbilang singkat. Dan jalur yang saya ambil pun agak berliku.

 gambar dari Arvind Balaraman

Saya ambil tes IELTSnya di Bandung, bukan di Jogja. Di Jogja ada 2 lembaga yang menyelenggarakan tes IELTS resmi: IDP Yogyakarta dan IALF di Real English. Real English waktu tes yang paling dekat adalah tanggal 17 Maret, sementara IDP Yogyakarta tanggal 12. Hasil tes keluar 14 hari setelah tes dilaksanakan. Karena saya perlu mendapat hasil tes pada bulan Maret, maka pilihan jatuh pada tes di IDP Jogja tanggal 12. Sayangnya waktu saya telepon, kursi tes sudah penuh. Padahal itu masih bulan Februari, tanggal 20-an. Saya bingung, masa tidak jadi mengambil tes dan memakai hasil TOEFL ITP yang sudah kadaluarsa saja untuk keperluan saya? Kalau ambil yang tanggal 17, baru keluar hasilnya April..

Dengan cepat saya memutuskan untuk ambil tes IELTS di kota lain saja. Bandung jadi pilihan utama, karena disana kan ada imoto. Plus setelah tes selesai bisa sekalian pulang ke Sukabumi. Begitu menelepon IDP Bandung, ternyata masih ada kursi kosong! Segeralah saya mendaftar. Untungnya sistem IDP di seluruh Indonesia sangat terintegrasi, bisa mendaftar di Jogja dan melakukan tes di Bandung. Saya melakukan pembayaran (195 USD, menghabiskan sisa hadiah Asian Job Express kemarin hiks) melalui Commonwealth Bank ke rekening IDP. Setelah mendapat bukti transfer, saya mendaftar dan mengisi formulir di IDP Jogja, kemudian mengkonfirmasi ke IDP Bandung mengenai tesnya.

Setelah pendaftaran selesai, seminggu berikutnya saya fokus skripsi lagi… Barulah seminggu sebelum tes saya kembali mempersiapkan IELTS. Walaupun sebentar, tapi saya betul-betul serius mempersiapkan semuanya. Persiapan yang saya lakukan:

-          Mengkopi ebook latihan ielts (berikut file latihan listening) dari Monic. Ada banyak banget, ngga mungkin terbaca semua, jadi saya baca yang menurut Monic bagus. Dua buku saya print segala, supaya lebih enak dipakai untuk latihan mengerjakan soalnya / membaca tipsnya. Saya mengerjakan sekitar 4 set latihan listening dan reading. Juga latihan mengerjakan task 1 writing.

-          Latihan speaking test sama imouto, waktu saya sudah datang ke Bandung. Ada guidelinenya memang di ebooknya. Memang Cuma sebentar dan lebih banyak tertawa-tawanya, tapi lumayan membantu.

-          Menyiapkan alat-alat tulis. Paranoid seperti biasa, saya menyiapkan tiga pensil 2B yang sudah diserut tajam, 1 pensil 2B yang belum diserut, dua pulpen warna hitam dan dua pulpen warna biru. Untuk jaga-jaga seandainya pensilnya patah atau pulpennya macet. Pensil digunakan untuk tes Listening dan Reading, sementara pulpen untuk tes writing. Jadi ingat masa-masa UAN dulu…

-          Browsing internet, mencari-cari info dan tips tentang IELTS, misalnya blog orang yang sudah mengambil tes IELTS… Somehow itu memberikan semangat dan motivasi. Makanya sekarang saya share juga pengalaman mengikuti tes IELTS, siapa tahu bisa memberikan tambahan dukungan moral juga untuk yang memerlukan...

-          Berdoa…! Supaya tidak ada hal-hal trivial yang mengganggu kelancaran tes. Supaya diberi ketenangan.

Skor IELTS berjarak antara 0-9.0 Total nilai itu adalah gabungan dari nilai 4 sub test IELTS: Listening, Reading, Writing, dan Speaking. 0 berarti sama sekali tidak mengambil tes, 5 berarti modest user, 9 berarti expert user. Kebanyakan universitas memberi syarat IELTS skor 6.5 untuk bisa lolos seleksi masuk, karena itu saya menargetkan untuk mendapat skor minimal 7 (good user), kalau bisa sih 7.5 sekalian.
Tes IELTS saya dilaksanakan di kampus Itenas Bandung. Jadwal tes listening, reading dan writing sekitar 3 jam berapa menit, mulai dari jam 9 sampai sekitar jam 12. Karena hujan dan macet tes kemarin agak terlambat dimulai. Tempat pelaksanaan tesnya adalah aula seminar yang cukup luas.

Listening

Tes listening terdiri dari 40 soal, 4 bagian, dikerjakan selama 30 menit plus 10 menit untuk menyalin jawaban ke lembar jawaban. Tesnya tidak menggunakan headset, tapi pakai speaker biasa. Iya sih kalau di percakapan nyata juga kita kan tidak memakai headset... Cuma sempat agak khawatir apakah suaranya akan terdengar jelas. Ternyata jelas-jelas saja. Bagian pertama paling sederhana, percakapan antara dua orang tentang orang yang membeli mebel. Percakapan berikutnya semakin kompleks, yang terakhir tentang seminar mengenai proyek seni atau apa begitu. Sejujurnya saya menargetkan cukup tinggi untuk bagian listening. Kalau latihan mengerjakan sendiri, rata-rata nilai saya sekitar 7 sampai 8 (ada band skor generator yang bisa menghitung jumlah skor berdasarkan jumlah soal yang benar dijawab). Waktu Toefl juga lumayan ngga kesulitan. Karena itu target saya 8. Ternyata, hasilnya 7,5. Cukup lumayan. Kemungkinan besar saya salah di bagian yang menyebutkan angka/harga, memang ragu-ragu menjawab. Mungkin juga saya terjebak dengan soal-soal pengecoh, sering ada soalnya.

Reading

Terdiri dari 40 soal juga. Ada berbagai macam tipe tes reading, seperti menamai paragraf, mencocokan jawaban, dll, intinya adalah untuk menguji kemampuan kita memahami wacana. Saya menargetkan untuk mendapat 7,5, karena walaupun bisa memahami bacaan, saya cenderung suka terkecoh dan terburu-buru, mengisi jawaban yang salah.

Waktu mengerjakan soal latihan, tipe soal yang saya nggak suka adalah yang mengharuskan kita mencari tema inti dari tiap paragraf. Jadi misalnya, disediakan satu artikel yang terdiri dari 10 paragraf. Di kolom berikutnya disediakan 11 kalimat pernyataan. Kita disuruh mencocokan kalimat pernyataan mana yang menjelaskan inti dari tiap paragraf dalam artikel. Ini saya anggap susah karena tiap pilihan pernyataannya bisa sangat ambigu, dan butuh ketelitian tinggi. Sering kali saya salah mencocokan. Akhirnya saya terus berusaha mengerjakan tipe soal seperti itu. Dan, waktu tes, dua dari 3 tugas utamanya adalah tipe yang mencarikan kalimat inti. Eaa… Untungnya saya sudah cukup terbiasa. Plus, waktu 60 menit ternyata cukup lama, saya bisa mereview kembali jawaban. Dan, as a pleasant surprise, dapat 8,5 untuk bagian reading! Yay. The power of practice J


Writing
Saya membuat blunder yang cukup besar disini. Being an aspiring writer, saya menargetkan untuk dapat 7. Tes writing Academic ini terdiri dari 2 bagian, dikerjakan selama 60 menit. Di Task 1 kita diminta mendeskripsikan grafik/tabel/gambar sebanyak 150 kata, Sementara dalam Task 2 kita diminta membuat esai argumentatif/eksploitatif singkat sebanyak 250 kata. Proporsi penilaian Task 2 lebih besar, karena itu disarankan untuk mengerjakan Task 1di 20 menit pertama, kemudian Task 2 di 40 menit berikutnya. Disini saya lengah.

Selama persiapan, Task 1 bagi saya lebih sulit dibanding Task 2. Susah untuk mendeskripsikan tabel/grafik secara holistic, detail, dan berkesinambungan, dengan bahasa dan grammar yang bisa diterima. Kita kan kalau melihat grafik atau tabel, yang penting mengerti isinya saja. Jadi waktu latihan saya habiskan lebih banyak untuk mempelajari cara mengerjakan Task 1. Waktu tes pun, 30 menit lebih saya habiskan untuk mengerjakan Task 1. Jadilah, Task 2 agak terbengkalai. Tapi, setidaknya di Task 1 saya mengerjakan dengan lumayan baik. Saya dapat grafik yang membandingkan waktu penayangan 3 macam acara televisi dalam kurun waktu 20 tahun.

Sebetulnya saya lumayan percaya diri dengan Task 2. Melihat contoh-contoh soalnya, banyak yang memiliki nuansa topik debat, misalnya: Apakah sebaiknya juri di pengadilan UK/Australia diperlihatkan latar belakang dari tersangka, sebelum mereka memberikan keputusan? Atau harm-benefit comparison dari nuklir. Untuk menyusun esainya pun bisa dengan memakai struktur 1st speaker debat: Background, Stance, Argumen 1, argumen 2, penutup.
Akhirnya saya ngga banyak berlatih untuk bagian ini. Di tes yang sebenarnya, saya jadi agak panik gara-gara waktu menulisnya tersisa hanya 30 menit. Topik esainya sendiri sederhana, apa yang membuat banyak orang tidak mampu mencapai ’keseimbangan hidup’? Sangat psikologis. Tapi saya jadi agak blank, tidak sempat membuat kerangka esai, dan menulis apapun yang terpikir demi memenuhi kuota 250 kata (bisa dipenalti kalau tidak terpenuhi). Grammar juga asal ditabrak saja. Hasilnya, saya dapat 6.5, dan sudah bersyukur sekali.

Speaking
Ada jeda sekitar 3 jam setelah tes tertulis ke tes speaking. Tes speaking terdiri dari 3 bagian: Perkenalan dan tanya jawab singkat, short speech –dua menit membicarakan suatu topik-, dan tanya jawab mengenai topik yang sebelumnya dijadikan tema speech. Semuanya dalam waktu sekitar 15 menit. Pelafalan kata saya ngga terlalu bagus, sering nervous dan stutter juga kalau ngomong sama orang, plus logat yang muncul selalu local wisdom, bahasa Inggris yang Indonesia banget. Makanya saya menargetkan skor maksimal 7 saja.

Di awal-awal tes, saya berusaha tampil percaya diri dan mengimplementasikan tips-tips tentang Speaking test (tips 1: kalau ditanya A, jawablah A plus sedikit informasi tambahan –Where do you live? –I’m currently living in Yogyakarta to finish my college, but previously I lived in Sukabumi with my parents. Tips 2: pakailah variasi grammar sebanyak mungkin: present, past, past continues, dll. Tips 3: Bicaralah dengan lancar dan percaya diri). Tapi tetap agak nervous sih. Agak senang ketika ditanya jenis buku favorit (fantasy book! ^^). Agak bingung ketika ditanya, do you enjoy walking?

Di bagian dua tentang membuat short speech, lagi-lagi saya jadi blank mencari ide speech. Topik yang diberikan: Ceritakan pengalaman ketika seseorang melakukan ’something nice’ untukmu. Selama 23 tahun saya hidup, tak terhitung banyaknya something nice yang saya terima dari keluarga dan teman-teman dan bahkan orang asing. Tapi ketika harus dibuat speech, bingung memilih yang mana dan bagaimana menceritakannya…. Akhirnya saya menceritakan pengalaman yang agak mencampuradukan fakta dan realitas, yang penting ceritanya terdengar koheren dan lancar (hint: iya ngga apa-apa kok sedikit mengarang-ngarang). Berusaha tetap memakai grammar yang benar juga, walaupun fokusnya terbagi antara membuat cerita yang nyambung dan grammar yang benar.

Bagian ketiga, akhirnya membahas why people do something nice to other. Di bagian ini saya baru menyadari bahwa sepanjang percakapan saya selalu memakai bahasa yang simple, padahal salah satu tips untuk Speaking test adalah menggunakan variasi kata yang beragam. Agak desperate, saya membawa istilah altruism dan beberapa kata lainnya. Hasil tesnya, alhamdulillah 7. Padahal saya sempat ragu juga apakah interviewernya benar-benar menangkap apa yang saya bicarakan.

Maka band skor keseluruhan IELTS saya, 7.5. Syukurlah, nggak sia-sia mengeluarkan 195 dolar, jauh-jauh pergi ke Bandung, serta menomorduakan skripsi selama seminggu. Bisa dipakai sampai dua tahun ke depan. Walaupun menunggu hasil skornya keluar juga menimbulkan drama tersendiri. Menurut aturannya, hasil tes akan keluar 14 hari setelah hari tes, dan akan muncul juga di websitenya. Dihitung sejak tanggal 8, berarti seharusnya tanggal 22 sudah keluar. Dan waktu di Bandung saya berkali-kali meminta agar hasil tesnya dikirim ke IDP Yogyakarta langsung saja. Ternyata, hasil tes tanggal 8 keluar tanggal 23, tapi baru bisa diambil di Bandung. Saya telepon kesana, ada kesalahan teknis sehingga hasil tes saya baru bisa selesai tanggal 27, hari Selasa, dan dikirim ke Jogja pada hari yang sama. Saya panik dan mau menangis, khawatir sampainya melebihi bulan Maret. Akhirnya hasil tesnya sampai di IDP Jogja hari Kamis. Betul-betul mepet, tapi yang penting saya dapat hasilnya…