Tentang Keberagaman di Spider-man: Homecoming

July 12, 2017

Lima tahun yang lalu (udah selama ituuu?!) saya menulis soal reboot Spider-man yg dimainkan Andrew Garfield, jadi rasanya pas untuk menulis soal reboot keduanya, yang awalnya saya pikir ngga penting tapi ternyata luar biasa bagus. Plus sub-judul reboot terbaru ini juga pas sekali, "homecoming", menandakan kembalinya saya ke dunia blogging :P.

Untuk sinopsis dan sebagainya, sudah bisa ditemukan di berbagai macam situs dan blog lah ya. Saya sekarang cuma mau menuliskan kesan pribadi soal film ini saja. Butuh penyaluran yang lebih sehat dibanding stalking instagramnya Tom Holland XD

Tulisan selanjutnya agak berbau spoiler jadi baca dengan risiko sendiri, ya!



***




Overall, saya suka dengan keputusan filmnya untuk ngga mengulang kisah asal muasal Spider-man dan kisah tragis Paman Ben. We had enough. Tone penceritaan yang ringan & lucu juga bikin filmnya mengalir enak, 2 jam lebih sama sekali ngga kerasa. Twistnya ngga ketebak, dan adegan di mobil setelah twistnya terbuka beneran bikin tegang tapi juga lucu. Post-credit scene keduanya bikin kezel tapi lucu. Karakter jahat di film ini juga punya motivasi yang bisa dimengerti (walaupun ngga justifiable) untuk melakukan apa yg dia lakukan.

Yang agak ngga okenya: spider suit yang jadi terlalu kayak iron man. Hmph.

Tapi, yang paling berkesan bagi saya dari film ini adalah penggambaran realistis dari dunia Peter Parker di jaman sekarang.

Sebagai anak SMA masa kini, believable banget ketika Peter Parker bikin vlog pribadi pas dia (dipaksa) berpartisipasi di Civil War-nya the Avengers. Teman-teman Peter yang multikultural sesuai dengan deskripsi daerah Queen, New York, yang sudah seperti melting pot. It was a delight  waktu liat salah satu figuran yg jadi temen sekelasnya Peter digambarkan pakai kerudung.

Kebanyakan penonton dan kritikus memuji keberagaman yang ditampilkan di film ini, walaupun ada juga suara-suara sumbang, ngga banyak sih, yang bilang bahwa keberagamannya terasa dipaksakan (e.g. karakter Flash yg jadi orang latin) atau malah kurang (e.g. tokoh utamanya masih laki-laki kulit putih, porsi tokoh perempuannya kurang).

Gimana yah, ketika film-film Hollywood lainnya melakukan white-washing (lirik Ghost in the Shell), saya pikir ngga masalah ya kalau tokoh Flash digambarkan dari ras yg berbeda. Karakternya toh sama, sebagai orang yg membully Peter. Dan disini fenomena bullynya juga somehow relatable dengan kondisi jaman sekarang. Bullying emosional itu juga sama jeleknya dengan bullying secara fisik.

Tentang porsi karakter perempuan, memang sih film ini masih didominasi laki-laki, tapi beberapa tokoh perempuan yang ada digambarkan dengan karakterisasi yg bagus, ngga sekedar damsel in distress.

Ada artikel menarik yang mencoba melakukan Bechdel Test (tes untuk melihat apakah karakter perempuan diperlakukan secara adil di sebuah film) ke Spider-man Homecoming. Hasilnya, hmm, ngga lolos karena  ngga ada adegan mengobrol antara dua karakter perempuan sepanjang at least 60 detik dengan topik yang ga ngomongin laki-laki. Agak disayangkan, tapi apa boleh buat, namanya screen time kan terbatas ya. Tapi imho, kualitas portrayal juga mesti dipertimbangkan sih. Zendaya sebagai Michelle Jones (MJ?!) memang ga banyak tampil tapi dia beberapa kali ngasih komentar yang cerdas & lucu.

Sementara soal karakter kulit berwarna cuma sebagai karakter pendukung? Yaah, memang iya, tapi setidaknya karakter mereka berkesan, bukan sekedar tempelan.

Beberapa kritik mempertanyakan kenapa di reboot yang baru ini Marvel nggak memasang Miles Morales, yang rasnya campuran, sebagai Spider-man. Tapi begini deh logikanya, disini kan Marvel baru saja memasukkan Spider-man di Marvel Cinematics Universe. Jadi, walaupun origin story sudah ngga perlu ditampilkan, rasanya wajar untuk memasang Peter Parker dulu, yang sudah lebih ikonik, sebagai anggota baru the Avengers. Lagipula Tom Holland cocok sekali sebagai Peter *new crush detected*. Saya optimis sih kalau studio Marvel nggak bangkrut dan Sony mau bertindak logis dengan terus sharing hak cipta film Spider-man dengan Marvel, mungkin di masa yang akan datang akan ada film yang bisa menceritakan bagaimana Peter mewariskan peran Spider-man ke Miles (tapi jangan mati plis). Saat itu mungkin film Kamala sebagai Ms. Marvel juga sudah ada.

P.S. Di tulisan soal reboot Spider-man dilu saya juga sempat bertanya-tanya apakah Batman akan direboot. Ternyata, loool... Ben Affleck :")

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah membaca..!! :)
Please share your thoughts and comments here...